Rabu, 23 Mei 2012

K-E-M-A-T-I-A-N



Dahulu, kemarin, dan esok tadi, aku belum begitu paham tentang sebuah arti “KEMATIAN”. Yang aku tahu kematian identik dengan air mata dan kehilangan. Ketika melayat pun, aku belum bisa ikut hanyut dalam suasana berkabung seperti mereka yang kehilangan. Yang aku lakukan hanya menenangkan mereka dengan berkata, “Ini sudah kehendak Allah, relakan saja beliau pergi. Jangan iringi beliau dengan air mata pilu, iringi beliau dengan doa biar kuburnya terang dan dapat ampunan dari Allah…” Ya, aku hanya mampu berucap seperti itu tanpa mengerti bagaimana kehilangan seseorang yang sangat berarti untuk hidup kita walaupun setidaknya kata-kata itu mampu sedikitnya menenangkan mereka yang kehilangan,
Tapi ya Allah, ketika giliran kematian itu menghampiri sanak saudaraku, rasanya sulit sekali diartikan. Mbah kakung tercinta yang biasanya selalu mengiringi kami, cucu-cucu dan anak-anaknya ketika berangkat sekolah dan kerja, telah di panggil Sang Khalik. Ya, tepat adzan dhuhur berkumandang jam 12.00 WIB hari senin lalu tanggal 21 Mei 2012.
Rasanya seakan-akan tidak percaya dengan kenyataan bahwa mbah kung telah tiada. Mbah kung yang selalu penuh semangat, pekerja keras, tidak suka mengeluh, dan perhatian dengan anak-anak serta cucu-cucunya harus meninggalkan kami semua.
Awalnya, kami memang sudah mempunyai firasat, ketika seminggu sebelum mbah kung sedo beliau minta di telfonkan putranya yang di Semarang, katanya kangen. Pengen ketemu. Padahal tidak biasa sekali mbah Kung seperti itu. Malah kadang mbah kung ketika masih sugeng sering pergi sendiri naik bis ke  tempat om Ahyadi kalau kangen dengan beliau.
Waktu anak-anaknya pada kumpul semua, kecuali Om Taufik, putra mbah kung yang dinas di Bandung sebagai TNI AKMIL, Mbah Kung dengan keadaan yang sangat sehat tiba-tiba bilang seperti ini, “Nanti kalau Mbah Kung sudah tidak ada, jangan rebutan warisan lho ya” dengan nada sedikit bergurau. Kami yang mendengarnya pun juga mengira itu hanya sebuah guyonan ala Mbah Kung dan tidak mengira kalau itu pesan menjelang wafatnya beliau.
Dan ketika aku, cucu ketiga Mbah Kung, yang sering dimintai mbah Kung tolong untuk ngantar beliau kemana-kemana, mengantar mbah Kung yang pengen beli jajan di mbak Mur, langganan mbah Kung. Beliau bilang seperti ini pada Mbak Mur, “Nduk, Surga ki peteng opo padang? Mbak Mur dengan wajahnya yang ramah dan penuh senyum hanya menjawab, “Yo padang tho mbah, neg peteng iku jenenge neroko”
Itu pun belum menjelaskan kepada kami bahwa itulah pesan-pesan terakhir mbah Kung kepada kami. Sungguh kami tidak mengira bahwa mbah Kung yang masih sehat wal-afiat itu telah tiada. Awalnya kami mengira mbah Kung akan dipanggil Allah ketika tragedi kecelakaan yang menyebabkan mbah Kung sempat tidak sadarkan diri dan sempat berganti rumah sakit kala itu. Tapi Allah berkendak lain. Mbah Kung sembuh dan bisa bersepeda-sepedanan seperti biasa lagi kala itu.
Dan kini, kami seakan-akan kehilangan seorang kakek yang hebat seperti mbah Kung. Sempat menangis dan pilu, tapi Allah tidak suka itu..INNALILLAHI WAINNAILAIHI ROJIUN!!
Allah, tempatkan mbah kung di surga terbaikMU. Beliau ahli ibadah ya Allah. Sungguh! Tak pernah sedikitpun beliau meninggalkan sujud disepertiga malamMu. Tak pernah sedikitpun beliau menunda seruanMU ketika para muadzinMu menyerukan namaMU. Tak pernah sedikitpun dia lalai untuk mengingatkan cucu-cucnya mengaji dan puasa wajib maupun sunah. Kami semua sayang mbah Kung, kami semua berharap mbah Kung bahagia disana ya Allah. Ampuni semua kesalahan dan dosa-dosa mbah Kung baik yang disengaja maupun tidak. Amin. Amin. Amin. Ya Robbalalamin!!!
Dessy sayang mbah Kung :*
Mohon doa bagi para pembaca untuk almarhum mbah Kakung tercinta saya (H.Moch.Kurdi). Suwun!

Minggu, 20 Mei 2012

SKETSA KEPRGIANMU


Hingga nanti disuatu pagi
Salah Satu dari kita mati
……………………………………..

Dina memutar kaset beraliran rock itu dengan keras. Tangannya meraih bingkai foto keluarganya dan membantingnya hingga pecah.
“BRENGSEK!!!!!” jeritnya keras.
Pintu kamarnya terbuka. Muncul wajah tenang Dani,sang kakak. Dani mematikan tape recorder dikamar itu dan mendekati adiknya yang tengah berang.
“Bukan dengan cara seperti ini untuk menghindar dari kenyataan,Dina!” ujar Dani lembut.
Dina hanya diam. Rahangnya mengeras. Wajahnya tersirat rasa sakit dan kebencian yang teramat dalam.
“Mereka yang seharusnya Dina jadikan panutan,mereka yang seharusnya Dina jadikan sebagai sosok figure yang baik,nggak pernah mau ngertiin perasaan Dina. Mereka jahat,mas! Mereka nggak pernah sayang sama Dina. Mereka nggak pernah peduli sama Dina. Mereka…..”
Dani tak kuasa lagi melihat adiknya,direngkuhnya sang adik kedalam pelukannya dengan penuh kasih sayang.
Selama ini hanya Dani yang bisa mengerti adiknya. Dina yang nakal,yang keras hati,selalu buat ulah,angkuh dan dingin. Dani tahu,semua itu Dina lakukan agar orang-orang memperhatikannya,menyayanginya,terutama mama dan papanya. Tetapi,ah,andai saja mama dan papanya bisa saling mengerti!
Semenjak pertengkaran hebat antara mama dan papanya dua tahun silam,kecerian dalam keluarga itu seakan-akan lenyap. Hampir setiap malam terjadi adu mulut antara mama dan papanya. Berawal dari isu perselingkuhan papa dengan sekretaris barunya dikantor ditambah pembalasan mama yang selingkuh dengan sesama rekan dokter. Yang jelas,tak pernah ada makan bersama lagi,tak pernah ada tegur sapa,dan tak pernah ada sebirat senyum sekalipun yang tersirat di wajah mereka. Dan kini,semua itu berujung dengan sebuah perceraian. Ya,mama dan papanya memutuskan untuk bercerai. Mungkin bagi mereka tu jalan terbaik,tapi bagi Dina dan Dani? Anak-anaknya?
Dina,gadis kecil yang manis,kini tumbuh menjadi gadis remaja SMA yang angkuh dan dingin. Hanya dihadapan Dani lah semua benteng keangkuhan Dina dapat runtuh karena Dina sadar,Dani lah satu-satunya orang yang masih bisa ia jadikan tumpuan harapan. Tempat ia berkeluh-kesah.
kadang Dina ingin seperti sang kakak. Dani selalu terlihat tenang di situasi apapun. Dani yang bibirnya selalu basah oleh senyum.  Dani yang begitu memahami segala apa yang ia rasakan.
Dina sendiri tahu,Dani lebih sakit dari yang ia rasakan. Dani lebih tersiksa dari yang ia fikirkan. Terlebih semenjak Lintang,kekasih yang begitu dibanggakannya yang telah 3 tahun lamanya menjalin hubungan denganya,ternyata mengkhianatinya dan hamil dengan sahabat Dani sendiri. Tapi Dani,ah…dia selalu tampak tegar. Dina begitu bangga terhadap sang kakak. Mungkin jika saat itu Dina yang berada diposisi Dani,Dina mungkin akan memilih mengakhiri hidupnya sebagai jalan yang terbaik. Tapi semua iu tidak untuk Dani. Dani begitu kuat. Padahal Dina tahu betul begitu cintanya Dani terhadap Lintang. Dani tak bisa membayangkan andai suatu saat dirinya akan terpisah dari sang kakak.

*********************

Please teach me oh God!
Teach me to be a good girl
Even when this world wouldn’t smile again
……………………………………………

Dina memasuki kamar kakaknya. Sepi! Dia mengamati sekeliling kamar itu. Temboknya penuh dengan kaligrafi. Kamarnya rapi,bersih dan tenang. Di meja sudut kamar penuh dengan kaset-kaset nasyid dan novel-novel islami
Dina tersenyum jengah. Beda sekali dengan suasan kamarnya. Temboknya memang penuh dengan poster,tapi bukan kaligrafi,melainkan poster group band rock yang begitu di gandrunginya. Kamarnya juga rapi dan bersih,tapi selalu gaduh oleh hingar-bingar music rock yang selalu menghiasi kamarnya.
Kata Dani,jika kiat ingin selalu tenang,kita harus banyak berdo’a. Tapi Dina selalu mengacuhkan kata-kata sang kakak. Bagi Dina,hatinya akan terasa tenang jika dia bisa menjerit dan berteriak sekeras-kerasnya.
“Dina!” panggil Dani membuyarkan lamunan Dina.
Dina menoleh,”Dari mana,mas?”
“Dari Musholla!!! Dina udah sholat maghrib?”
Dina tertawa kecut.
“Laen kale ajah.”sanggahnya.”Aku cabut dulu,mas! Mau ikut nge-band ditempatnya Pandu.”ujarnya sambil berlalu meninggalkan sang kakak.
Dani menatap kosong kepergian Dina,kapankah adiknya akan berubah?Dani begiu miris melihat tingkah laku dan penampilan adiknya. Adiknya sama sekali nggak mengenal Tuhan. Penampilannya juga begitu mengkhawatirkan. kemana-mana pergi menggunakan kaos tanpa lengan dan celana yang bagian lututnya sengaja di robek layaknya anak berandalan yang tak tahu aturan.
Mungkin itulah salah satu sikap berontak Dina terhadap mama dan papanya. Tapi kenapa mama da papanya nggak pernah mau ambil pusing?padahal Dina adalah wanita. Wanita ibarat kaca. sekali pecah tak lagi berharga. Seharusnya Dina dijaga,tapi…………
Andai Dani bisa mengubah jalan pikiran adiknya,dia bersyukur sekali. Tapi dia percaya suat saat Dina akan berubah menjadi lebih baik. Dani yakin Dina akan berubah.

*************************
Suatu hari Dina menemukan sebuah kaset nasyid yang terbungkus rapi di mejanya.
“Ini dari mas Dani,kan?” tanyanya menemui sang kakak.
Dani tersenyum.
“Gimana?Dina Suka?Dari pada music rock yang nggak jelas gitu?Mending Dina dengerin ini. Bagus deh,,Dina pasti suka!”
Dina tertawa keras.
“Mas,music kaya gini tuh udda nggak jaman,,kuno!!Mas Dani sih kurang gaul,,nggak modern!! Udah tau Dina alergi music kaya gitu,eh malah di ksaih ke Dina,salah alamat kalo mas Dani ngasih kaya gini buat Dina.”
“Kata siapa nasyid uddah nggak jaman?Nyatanya,sekarang malah banyak band-band papan atas yang buat album religi?Apalagi kalo bulan ramadhan,,ya tho?”Sangkal Dani.
“Bodo,ah! Udah di bilangin nggak suka yah nggak suka!” ujar Dina agak membentak dan pergi begitu saja.

********************

“Dina,kenalin ini kak Noura! Kak Noura ini yang nanti akan nemenin Dina Selama kakak KKL di Bali.” Kata Dani kepada adiknya seraya memperkenalkan gadis manis berjilbab di sebelahnya.
Dina mengerutkan dahi. Nggak salah nih kakaknya menitipkan dirinya kepada gadis yang mirip teh Ninih,istri pertama A’a Gym,selama dua minggu saat kakaknya KKL di Bali? Batin Dina.
“Dina nggak perlu temen,mas! Dina kan udah terbiasa sendiri. Lagian Dina kan udah gede,mas!” Sahut Dina ketus.
Dani memandang tajam ke arah Dina. Agaknya ucapan Dina begitu menusuk. Buktinya,Noura langsung menunduk mendengarnya. Tersinggung mungkin.
“Dina kog ngomongnya gitu sih?” Ujar Dani.
Dina hanya diam.
“Mas khawatir Dina sendirian,,mas nggak mau Dina kenapa-napa!”
“Kalo Dina keberatan nggak papa kog,Dan!” Sela Noura
“Nggak,,pokoknya Noura harus disini sama Dina.” Bantah Dina
Awalnya Dina memang keberatan harus tinggal sama orang yang benar-benar dia rasa nggak se-aliran seperti dirinya,tapi lama-kelamaan semua itu mengubah pikiran Dina. Dia menyukai seseorang seperti Noura. Gadis rajin itu selalu tampak ceria. Dia Selalu bisa membuat siapapun tersenyum. Dina kira Noura itu orangnya kuper dan pendiam. Tapi dugaannya meleset jauh. Noura orangnya supel. Gaul lagi!! Noura juga menyukai band-band rock seprti Dina. Tapi dia tidak pernah berteiak-teriak menyanyikan lagu rock seprti Dina. Bahkan suara Noura begitu merdu ketika ia melantukan ayat Al-Qur’an.
“Mbak,maafin Dina yah?Dina dulu udah buat mbak Noura tersinggung sama kata-kata Dina.” Kata Dina suatu hari.
“It’s Okay! Lagian mbak udah tentang Dina dari mas Dani. Nggak papa kog,Dina!” Sahut Noura ramah.
“Mbak Noura pacarnya mas Dani yah??”Tanya Dina usil.
Noura tersenyum manis.
“Insya Allah,,”Jawabnya pelan.
Bibir Dina membulat. Ternyata gadis bermata teduh ini pacar kakaknya. Dina bangga sama mas Dani. Kakaknya nggak salah pilih. Daripada Lintang,Noura gadis yang luar biasa. BEruntung mas DAni menemukannya.
Semenjak Nuora ada bersama Dina,dia banyak mengajari Dina berbagai hal. Dina kini mengerti kenapa setiap hari kakaknya selalu mengingat kan nya untuk sholat,mengaji,dan semuanya. Huwf,,Dina merasa kecil. DIa begitu jauh dengan Tuhannya. Bahkan hampir tidak mengenal Tuhannya. TErnyata belajar mengenal Tuhan Juga sama hal nya belajarkasih sayang. Belajar untuk mencari ketenangan hati.
Jauh di lubuk hati Dina,dia ingin seperti Noura,dia lembut tapi tidak lemah,mempesona tapi tetap bersahaja,dia terlihat begitu istimewa. Terlebih dia terlihat anggun dengan balutan jilbabnya. Wajahnya tetap cantik tanpa make-up,dan yang paling menarik,Noura tetap modis walaupun tubuhnya tertutup rapat.
“Mbak Noura,Dina pengen berubah”
“Benar??”mata Noura berbinar mendengarnya.
Dina mengangguk,
“Tapi jangan hanya sekedar ucapan. Kalo Dina udah ada kemauan,nggak susah kog menjadi seperti yang Dina inginkan.
Sekali lagi Dina mengangguk. Benar juga kata Noura.DIa teringat kata-kata kakaknya.
“Dina,boleh nggak mas minta sesuatu dari Dina?”Tanya Dani dulu.
“Apa?”
“Kakak pengen Dina berubah.”
Dina tertawa,” Berubah?? Jadi apah?Batman?Spiderman?atau power rangers?”
“Bukan itu,Dina! Mas Cuma pengen dina kenal ma Tuhan. Ingat ma Tuhan. Dina bisa jadi lebih deket ma Tuhan. Dina rubah donk sikap ma penampilan Dina.”Ujar Dani halus.
“Oh,,jadi mas pengen Dina pake jilbab gitu?”
“Nggak harus pake jilbab kog. Dina berpakaian rapi ajah mas udah seneng. Seneng lagi kalo mau pake jilbab. Dina kan cewek,nggak baek kan Dina kemana-mana pake kaos tanpa lengan sama celana robek-robek kayak anak berandal gitu. Dina jugag harus banyak berdoa,minta sama Tuhan agar keluarga kita kembali utuh. Mama dan papa bisa kumpul jadi satu lagi sama kita.”
Dina melengos,” Dina kayak gini juga gara-gara mereka.”
“Mas tahu,,Tapi semua itu juga tergantung sama Dina kan?Kalau Dina kayak gini terus,mungkin mereka juga kan terus saling menyalahkan. Coba deh Dina bisa bersikap lebih dewasa. Ambil hikmah dari setipa masalah. Kalau Dina kaya gini terus,apah yang akan Dina dapetin??Dina nggak akan dapat apa-apa.. Semuanya hanya malah memperburuk situasi. “ Kata Dani sabar.
Dan sekarang,semenjak kehadiran Noura,Dina ingin menunjukan bahwa dia memang ingin benar-benar berubah. DIa akan membuktikan pada kakanya bahwa dia memang ingin menjadi lebih baik,jauh lebih baik,seperti yang Dani inginkan.
orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki hal-hal yang terbaik. Mereka hanya berusaha menjadikan yag terbaik dari setiap yang hadir dalam hidupnya.

*******************************

“Nanti sore mas Dani pulang,Dina mau nagsih kejutan apah buat mas Dani?” Tanya Noura.
Dina tersenyum.
“Ada deh,,mau tau ajah”
Noura membalas senyum. Di cubitnya hidung gadis manis di hadapannya itu.
“Mbak,,makasih yah karena mbak Noura udah ngajarin dan ngasih Dina berbagai hal.Dina Seneng banget deh bisa kenal dan dekat sama mbak Noura.”
“Ya-iyalah,,, Noura gitu lhuw …hehehe “ Sahut Noura disusul gelak tawa keduanya.
Sorenya Dina sudah siap di dalam mobil Noura untuk menjemput kakaknya di pelabuhan. Kali ini ada yang terlihat berbeda dengan penampilan Dina. Dina memakai jilbab. Barangkali itu kejutan yang akan dia perlihatkan kepada kakaknya.
Noura belum keuar juga dari dalam rumah. Katanya dia mau mengambil tasnya yang ketinggalan… tapi sudh hampir setengah jam Noura belum muncul juga.
“Lama banget sih mbak??” gerutu Dina ketika Noura memasuki mobil dan menjalankannya.
Wajah putih Noura terlihat pucat. Keringatnya mengalir agak deras dari balik jilbabnya. Dia tak mengucapkan sepatah kata apapun pada Dina.
“Mbak Noura kenapa tho?Sakit?Asmanya kambuh?” Tanya Dina khawatir.
“Nggak!!” Sahut Noura pendek.
Dina hanya dim. Di rapikan kembali jilbab coklat muda yag menghiasi kepalanya. Dalam bayangannya,pasti kakaknya akan terkejut dan senang melihat Dina nanti.
“Lho,kak?Kok berhenti disini?” Tanya Dina ketika Noura menepikan mobilnya di rumah sakit. “bak Noura mau nengok mama mbak Dulu?” Tanya Dina lagi. Beberapa hari yang lalu,Noura bercerita bahwa mamanya sudah seminggu di rawat di rumah sakit untuk operasi cangkok ginjal sebelah kirinya.
Noura tidak menjawab pertanyaan Dina. Dina hanya berjalan mengikuti Noura menyelusuri koridor-koridor Rumah Sakit.
“Mbak Noura nyebelin banget sih,di tanyain malah diem ajah. Duh,mas Dani kelamaan nggak yah nunggu di pelabuhan?” Gerutu Dina dalam hati.
Noura memasuki sebuah ruangan yang di sana terlihat banyak orang berlalu lalang. Di sana juga terdapat beberapa orang yang berseragam polisi. Sebenarnya ada apa sih??
Dina resah,dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pasti sekarang mas Dani sudah menunggu lama. Tapi bagaimana dengan Noura?? Noura berhasil menrobos ruangan yang ramai penuh orang da meninggalkan Dina yang tengah kebingungan di luar ruangan.
Dina meraih handphone di sakunya. Di pencetnya tombol handphone untuk menghubungi sang kakak. Huft,, Kenapa handphone kakaknya tidak aktf??
Dina penasaran. Di cobanya dia menerobos kerumunan orang yang berkerumun di sekitar ruang itu untuk mencari Noura. Dina berhasil memasuki ruangan itu,,tapi Oh God,,ada apa ini?? Ternyata di dalam ruangan itu tergeletak orang-orang yang sepertinya mayat korban kecelakaan.
Dia melihat Noura,dia mendekati gadis itu,,tapi lagi-lagi ya Allah… mata Dina tertuju pada tubuh tak berdaya di hadapan Dina. Orang itu……..
Dina mendekat,lututnya melemas. Air matanya mengalir tertahan. Tubuh yang tergeletak tak berdaya itu adalah satu-satu nya harapan dia untuk bertahan hdup. Tubuh itu….
“Mas… Dani” Lirihnya tertahan.
Noura menoleh. Di raihnya tubuh Dina yang melemas.
“Dia adalah salah satu mahasiswa yang merupakan korban yang meninggal karena tenggelamnya kapal elsena C6130 yang masih berhasil di temukan.” Ujar seseorang yang berseragam seperti TIM SARS yang berada di dekat Dina.
Dina terisak. Di belainya rambut sang kakak.
“Mas Dani kenapa tega sama Dina! Dina udah berubah,mas! Dia udah mau nurut sama kata-kata mas Dani. Tapi kenapa mas Dani jahat kaya gini,,Kenapa mas Dani ninggalin Dina??” Tangis Dina.
“ Dina… “ Bisik Noura menenangkan.
“Mas Dani,,lihat Dina!! Dina udah bisa pakai jilbab. Mas Dani mau lihat Dina kan?? Dina cantik kan,mas??” Jerit Dina mengguncang mayat itu.
“Udah Dina,,,,sabar sayang ….”
Noura tak kuasa lagi melihat Dina. Di peluknya tubuh gadis itu dengan erat.
“Dina yang ikhlas yah??”
“Mas Dani belum sempat lihat Dina pakai jilbab,mbak..”
Nuora menahan tangisnya,” Mas Dani udah lihat Dina dari surga .”

******************

Tak pernah sekailpun terlintas di benaknya dia akan kehilangan satu-satunya orang yang dia sayangi degan cara sepert ini. Tak pernah jua dia membayangkan akan terpisah dari sang kakak. Dia mengira tak akan ada yang mampu memisahkannya. Sekalipun mama dan papanya.
Tapi, ketika Tuhan berkehendak lain. Ketika perpishan begitu terkesan meyakitkan. Ketika kematian ada di depan mata. Ketika ruh dan jasad terpisah. Ketika air mata mengiringi SKETSA KEPERGIAN. Ketika batin keikhlasan harus rela melepaskan. Tak ada yang bisa menahan rahasia Tuhan tentang teka-teki kematian.

Tuhan….
Bicaralah padaku bila aku kesepian
Bisikanlah dukungan-Mu bila aku di rundung kemalangan
Dengarkanlah suaraku bila kau tertatih dan terjatuh
Sudilah menjadi tongkat penuntun dalam kelelahan
Sekarang dan juga nanti
Dalam akhir hidupku
………………………………………..
( Doa para peziarah Santiago De Compostela )

Mata Dina mengabur melihat mayat Sang kakak di turunkan di liang lahat. Di lihatnya sang mama menangis di bahu seorang laki-laki. Dan papanya,berdiri tegak agak jauh dari pemakaman. Fenomena yang menyedihkan. Mereka tak kunjung memahami arti goresan sketsa ini. Mungkin,jika keadaan tak berubah,tak lama lagi dirinyalah yang pergi.


THE END

Minggu, 25 Maret 2012

POTRET BAPAK TERSAYANG


Pak Raden .. Hihihi
Bapak Nurhadi. Niku asmanipun bapak’e kawula. Laki-laki satu-satunya dirumah (hehehe maklum, semua anak bapak perempuan) yang paling saya cintai di seluruh jagat raya Indonesia merdeka Bapak yang sering di panggil pak raden oleh teman-teman (Karena punya brengos alias kumis hitam pekat nan tebel mirip pak Raden) perawakannya tinggi, gagah, besar, dan cukup hitam (daan kini menular ke saya hitamnya). Bapak jarang sakit, sekalinya sakit bapak akan tidur dari pagi hingga pagi lagi (bangun cuma buat sholat).
Saya sangat sayang sama bapak. Bapak jarang marah. Kalaupun jengkel dengan anak-anaknya, beliau hanya diam. Bapak mahir kalau melantunkan tembang jawa salah satu tembang jawa andalan bapak “Caping Gunung”, bapak pun ahli memainkan harmonica. 
::: My Superman :::

Satu hal yang saya banggakan dari bapak, beliau selalu membanggakan anak-anaknya. Sekecil apapun hal baik yang di lakukan anak-anak bapak, apresiasi beliau sungguh besar. Bapak. I Love you. I Need You. Semoga Dessy bisa mewujudkan hal-hal yang di inginkan bapak. Ridhoi perjalanan Dessy meraih cita dan cinta Dessy ya pak. Doa bapak lebih dari segalanya. 

Salam Semangat

^_^
Dessy Semangat Truzz

Sabtu, 24 Maret 2012

Murid-muridku … Semangat hari-hariku …


Di setiap pagi, satu hal yang selalu membuat mata ini untuk terbuka lebih lebar, membuat otak ini berfikir lebih cemerlang, dan membuat senyum indah untuk terus saya kembangkan, apalagi kalau bukan bertemu dengan murid-murid kecil saya, teman di pagi hari, ladang amal ibadah saya.
Calon-calon BJ Habibi cilik niiih ^_^
Sudah hampir 3 tahun saya bekerja, hmm, bukan hanya bekerja sepertinya, tapi berteman dan belajar membentuk kehidupan dengan anak-anak dan teman-teman kerja yang menurutku lebih pantas sebagai orang tua saya karena umur-umur rekan saya bekerja hampir dan lebih kurang seumuran dengan bapak saya. Di sebuah desa dari kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak. Saya hanya mendapat jatah 4 hari dalam seminggu untuk bertemu mereka, generasi generasi kecil yang sepertinya dahaga akan teka-teki dunia.
“Bu Dessy, kita di ulang yo…………………. “
Murid kelas 3 unyu-unyu :)
Itulah yang sering saya dengar ketika motorku bermerk “Honda” Revo itu memasuki gerbang sekolah. Tangan-tangan kecil berebut untuk menyalami saya yang baru turun dari motor. Ada yang mencium tanganku dengan hanya tersenyum dan pergi, ada juga yang terus memegang tangan ini dan mengomentari kerudung yang saya pakai di hari itu. Duh, anak-anak. Menggemaskan sekali kalian!!!
Kadang saya juga sering di buat kesal oleh mereka, terutama anak laki-laki yang bandel dan tidak bisa berbahasa krama guru. Saya sempat bingung, padahal saya guru bahasa inggris, lha kog setiap pagi malah ceramah dulu tentang penting dan sopannya penggunaan bahasa krama untuk murid terhadap guru.
Satu hal yang sering saya sayangkan, di lingkungan masyarakat SD tempat saya mengajar, anak-anak minim belajar tentang sopan santun dari orang tua mereka, minim tentang penggunaan bahasa yang baik, dan minim akan pandangan ke depan. Guru-guru lain di SD tempat saya mengajar sering mengeluh, ya, karena para orang tua wali kurang begitu perhatian terhadap tumbuh-kembang pendidikan anak mereka. Maklum juga sih, mereka adalah golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Potret murid-murid SD Kendaldoyong 2
Tapi yang membuat saya semangat, walaupun saya terkadang galak, judes, tapi kehadiran saya selalu dinanti mereka. Saya mengerti, jika kita ingin dekat dengan seseorang, sekalipun dia anak kecil, perlakukanlah dia seolah-olah teman atau sahabat anda sendiri. Nah lho,, biarpun saya galak, mereka tetep dekat dengan saya dan menanti-nanti jam pelajaran saya. Hehehe.
Saya mencintai mereka. Mereka adalah bagian dari kehidupan saya. Mereka tanggung jawab saya. Walaupun saya masih terhitung kecil dan paling muda di antara guru-guru lain. Jelas, saya mengajar sambil kuliah. Dan tentunya banyak kendala dan problema yang sering menghampiri. Dan untunglah, bapak ibu guru yang lain di tempat saya mengajar selalu membantu menjawab segala keluh kesah dan kesulitan yang saya alami.
Mereka anak-anak polos lugu
Seperti halnya kertas putih tanpa coretan
Masuk gerbang sekolah dengan semangat ingin tahu
Seolah-olah ingin menakhlukan dunia dan menantang segala cobaan

Mereka adalah ladang amalku
Dimana aku wajib memberi yang terbaik dari segala yang aku tahu
Mereka adalah cerminan masa depanku
Yang tak akan ku biarkan mereka hanya duduk diam terpaku

Lari lah anakku ..
Kejarlah impianmu ..
Aku hanya bisa memberimu ilmu ..
Yang harus kau bawa dank au ingat di sepanjang umurmu ..



Salam Semangat

^_^

Dessy Semangat Truzz