Minggu, 17 Maret 2013

DOAKU, PAGI INI


Pagi ini, ku panjatkan syukurku kepadaMu ya Allah, ketika Engkau masih mengijinkan raga milikMu ini kupakai, jantung ini berdetak, Nadi ini berdenyut, dan nafas ini berhembus.


Ampuni aku ya Allah jika telah banyak membuat kelalaian dan kekhilafan. Mungkin ini semua terjadi ditengah pencarianku atas jati diriku. Tetap apapun yangterjadi, ampuni hambaMu ini ya Rabb.. Ampuni!!

Hari-hari yang telah berlalu kemarin dan kemarin, manis pahit, suka duka, tangis tawa, sesal bahagia, semoga bisa menjadi ibrah buatku untuk senantiasa lebih baik dan lebih baik lagi, agar aku semakin cinta akan Engkau ya Khalik.

Aku tidak akan tahu apa lagi yang akan terjadi padaku kelak, aku pasrahkan semuanya hanya KepadaMu dan terus selalu berhuznudhzon kepada takdir dan ketentuanMu ya Allah. Istiqomahkan aku terhadap tujuan kebaikan. Luruskan niatku untuk meraih barakahMu. AKU HARUS BISA LEBIH BAIK.. PASTI BISA. Amin amin. SEMANGAT ^o^

Kamis, 14 Maret 2013

Teach Me Oo Allah

Please teach me, Allah…
Teach me to always thank for you
When the arrogant power over my mind
Teach me to be a strong girl for you
When this world wouldn’t smile again

Teach me oh Allah…
So I can laugh after I cry
I can spirit full everyday
Before darkness blinds my eyes
Before the clouds covered my face

Aku menemukan puisi ini dalam secarik kertas ketika aku membuka-buka buku usang di sebuah toko loak buku. It's Nice poem. Simple but mengena sekali.

Kadang kita merasa menjadi seseorang yang angkuh dan sombong terhadap kemegahan dunia tanpa pernah mencari makna dan arti yang sebenarnya dari sang Khalik. Kita terlalu tersihir terhadapa apa yang ada tanpa mengambil pelajaran dariNYA. Itulah kita.

Jangan sampai kemegahan dunia membuat kita lupa
Buta
Hina
Dan menginkari nikmatNYA

Kita ada karena DIA
Kita bernafas karena kuasaNYA
Kita berfikir karena pemberian akalNYA
 

Sabtu, 17 November 2012

Ku Tak Seindah Kedipan Matamu


Mengapa engkau tega mencuri hatiku
Tanpa seijin aku lebih dulu

Aku melihat dia waktu itu,
Dia yang ceria, dia yang senyumnya mempesona, dia yang baik hati kepada siapapun itu, dan dia yang mempunyai nilai plus karena taqwanya dia kepada sang Khalik.
Pertama kali mengenalnya, sungguh tidak ada rasa canggung dalam perasaan ini. Dia sungguh Friendly, dan itu membuat dia selalu banyak kawan.
Tak pernah sekalipun dia tahan melihat orang sedih dan diam, terutama aku sebagai teman satu kelompok Praktek Asuhan Keperawatan di ICU. Dia selalu menghibur aku dengan berbagai tingkah dan  mimic wajahnya yang lucu. Dalam bentuk apappun dia berusaha melucu hingga wajahnya mirip badut, tetap tak mengurangi ketampanannya.
Sungguh, sejak awal dia memang begitu menarik. Lebih menarik lagi ketika aku menjadi teman satu tim dan dekat dengan dia.
Hari-hariku terasa indah dan bermakna sekali selama aku praktek dan berteman dengan dia. Dia selalu ringan tangan membantu siapapun, terutama membantuku. Mengantarku ke asrama, menemaniku makan, mendengarkan ceritaku, sampai ketika aku marah dan menangis dia yang menghiburku.
Yang aku tahu, aku adalah sosok yang keras kepala, emosional, galak, dan seenaknya sendiri. Aku sering memarahinya ketika dia kurang gesit mengerjakan laporan ICU.  Aku sering merajuk ketika kadang dia lebih membantu temanku yang lain. Tapi tetap, pesonanya tak pernah pudar, dia tetap baik dan baik terhadapku.
Pernah suatu kali aku minta kepada atasan Rumah Sakit agar dipindahkan dari tim. Ya, kala itu aku marah kepadanya karena dia menghilangkan laporan kelompok. Sebenarnya aku bisa membuatnya lagi, tapi ada sebab lain yang membuat aku benar-benar tak ingin bicara lagi dengan dia. Dia semalam pergi makan dengan Rebecca, temanku bule keturunan Brazil-Malang, aku cemburu. Ya aku cemburu sekali. Rebecca sudah punya pacar padahal, tapi aku tetap cembru sekalipun dia sudah bersuami. Agak sedikit aneh memang, tapi aku tetap tidak suka.
Lalu aku dengan atasan berbicara langsung dengan dia. Atasan mengutarakan maksudku untuk keluar dari kelompok karena alasanku dia menghilangkan laporan kelompok. Dia terdiam. Dia mendatangiku. Tapi aku sama sekali tak mengindahkannya, apalagi membalas sapaannya.
Akhirnya aku keluar dari kelompok. Aku pindah kelompok lain. Teman-teman menanyaiku kenapa aku jadi seperti itu. Aku hanya menjawab sekedarnya dan pergi.
Aku tersiksa, benar-benar tersiksa. Tidak satu kelompok dengan dia, tidak ada dia yang menghibur, tidak ada dia yang mengantar pulang, sungguh tersiksa. Aku sering marah-marah. Apalagi kalau melihat dia bersama Rebecca.
Sebenarnya aku tidak punya hak atas semua ini. Mungkinkah ini perasaan cinta ya, aku mencintainya. Sejak hari pertama aku melihatnya sholat dengan khusyuk di musholla. Hari itu aku mulai mengamatinya dan jatuh hati kepadanya.
Tapi dia? Apa iya perasaannya sama dengan apa yang aku rasakan? tahukah dia tentang perasaan ini?
Berhari-hari dia menyapaku dan aku tetap tak bergeming. Dan hari itu, ku lihat dia diam. Tak ada lagi senyumnya untukku. Dia sama-sama acuh.
Aku pergi ke musholla. Aku ingn menangis disana. Tapi, aku meihat dia. Berdoa di dalam musholla sambil terisak. Ya, dia menangis. Lama sekali aku melihatnya terisak ditengah doanya. Aku serba salah. Ingin aku mendekat tapi aku takut.
Tiba-tiba dia menyudahi doanya dan berbalik kearahku. Aku terkejut. Tak sempat melarikan diri. Aku terdiam mematung. Dia melihatku. Kami pun terdiam.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Tidak apa-apa.” Jawabnya sambil tersenyum. Dia berjalan hendak meninggalkanku. Tapi langkahnya terhenti lagi. “Salsabila, maaf ya. Gara-gara aku laporan kita hilang. Aku memang bukan bagian dari tim yang baik. Aku banyak bercanda daripada serius. Aku sering membuatmu gemas dan jengkel sampai kamu memtuskan keluar dari tim. Maaf ya!”
Aku ingin menangis. Aku seharusnya yang banyak salah. Aku sering kasar dan egois. Aku sering marah tanpa alasan. Bahkan aku sering menyuruhmu kesana kemari mengantarku padahal aku memiliki mobil sendiri.
“Iya. Aku juga minta maaf” jawabku pelan.
“Kita berteman lagi kayak dulu ya? Aku sudah menyerahkan laporan yang aku buat ke Pak Tri. Aku merasa nggak tenang kita seperti ini.”
Sama, Ghani. Aku juga tidak tenang. Apa lagi melihatmu dengan Rebecca.
“Iya, Ghani.” Jawabku pendek.
“Alhamdulillah. Ya sudah. Sholat dulu sana. Jangan cemberut lagi ya. Ingat, pemaaf itu adalah salah satu sikap istri idaman, hehe” katanya sambil memasang muka lucu.
Aku tersenyum. Duh, dia itu. Selalu bisa meluluhkan hatiku.
Aku menuju tempat wudhu. Ku basuh mukaku. Aku senang ya Allah. Dia kembali. Kami kembali. Aku pun trenyuh kala melihat dia menangis. Dia menangis untukku-kah?
Keesokan harinya dia mendekatiku. Kami bercanda seperti sedia kala. Teman-teman bahkan mencibir kami layaknya pasangan suami istri yang rujuk lagi. Aku tertawa mendengar ocehan mereka.
Tiba saatnya kami harus berpisah dari praktek Asuhan Keperwatan dan kembali pada rutinitas dikampus masing-masing. Sedih menggelayutiku lagi. Haruskah aku berpisah dengan dia?
Malam itu malam terakhir bagi kami. Kami mengadakan acara renungan perpisahan di bagian belakang Rumah Sakit. Kami menangis serentak tatkala ketua kelompok mengingatkan masa-masa kita pertama bertemu. Aku meliha dia. Tak ku sengaja dia melihat kearahku. Darahku berdesir. Ya Allah, kenapa ini?
Acara renungan telah selesai. Kami semua berputar untuk saling berjabat tangan. Kini giliranku berjabat tangan dengan dia.
“Ghany, maaf ya atas sikapku selama ini.” Ucapku terbata-bata.
“Sst, mana Salsa yang tegar, kuat, keras bagai batu beton?” ucapnya sambil tersenyum. “Mesti mau nangis?” Godanya.
“Yee, enak aja! Ga banget aku nangis.”ucapku sambil memalingkan muka.
“Beneran?” godanya lagi.
Cess. Air mataku jatuh. Aku benar-benar menangis. “Nanti siapa yang nganter aku subuh-subuh ke rumah sakit? Siapa yang mukanya bisa berubah kaya badut saat aku sedih?” ucapku sambil terisak.
“Tidak boleh gitu, Sa! Ingat, setiap pertemuan itu ada perpisahan. Kamu adalah inspirasiku, Sa. Kamu yang mengajarkan aku kalau seorang lelaki itu harus gesit, cekatan, dan bisa menjadi imam untuk perempuan.”
DEG. Jantungku berdetak tak karuan. Apa yang dia ucapkan barusan? Ya Allah aku senang dia berucap seperti itu.
“Apa? aku inspirasi kamu?” tanyaku tak percaya.
Matanya berbinar, “Iya, kamu inspirasiku. Kamu yang menyadarkan aku caranya bersikap serius atau santai di dalam situasi. Akan ku ajarkan kepada istriku 3 bulan lagi. InsyaAllah.”
Dahiku berkerut. Istriku? 3 bulan lagi? Apa maksudnya?
“Oh ya, Sa. 3 bulan lagi selepas wisuda di kampusku, aku akan menikah. Hadir ya?”
Untuk yang kedua kalinya aku terkejut. Tapi ini lebih dari sekedar terkejut.
“Maksdu kamu?” kataku terbata-bata.
“Iya, 3 bulan lagi aku menikah. Maaf ya baru ngasih tahu. Biar kedengeran surprise gitu., hehe.” Ucapnya.
Aku memaksakan tersenyum. Pahit ya Rabb. Aku semakin menangis. Bukan karena sedih berpisah dengannya, tapi karena mendengar dia akan menikah.
Dia menepuk bahuku, dan berlalu dariku. Ya Allah, aku lemas kala itu. Ingin rasanya aku ambruk dan pingsan.
Dia yang sempurna dimataku. Dia yang selalu mempesona. Dia yang hatinya mulia. Dia yang selalu ceria. Ah, ya Allah, ternyata selama ini aku terlalu tinggi menduga. Aku gadis keras yang tak ada lembutnya, yang galak tak ada ampunnya, yang pemarah dan besar egosinya, mengharapkan dia?
Aku memutuskan untuk pulang. Menenangkan diriku. Melupakan dirinya.

Aku bahkan tak seindah
Ku tak seindah kedipan matamu
Tapi dapatkah kau berikan senyum untukku
Walau itu bukan cinta,
(Lagu Astri ft Kim, Saranghamnida)



Bapak Menangis ....


25 Oktober lalu, ketika usia bapak bertambah, ketika kesempatan hidup beliau di dunia berkurang, kulihat kelopak matanya berair ketika kami, anak-anak, istri, menantu, dan cucunya mendekati beliau beramai-ramai dengan menyanyikan lagu milad dengan syahdu dan penuh rasa haru.
Bapak terharu memotong kue
Awalnya lucu sekali melihat bapak sedari pagi dibuatt jengkel oleh keluarga. Tak ada satu pun yang mengucapkan selamat ulang tahun pada bapak. Bapak merasa tidak diperhatikan. Bapak merasa keluarga telah lupa dengan hari bersejarah. Bapak mutung dikamar hingga telat berangkat kerja. Bapak manyun  sama ibu.
Setelah pulang kerja, bapak melihat wajah-wajah kami cuek seakan tidak peduli dengan kejengkelan bapak. Beliau terdiam. Masuk kamar. Dan ku dengar isak tangis bapak. Ibu datang menemui bapak, menghibur tapi sama sekali tidak menyinggung tentang ulang tahun bapak. Bapak tambah jengkel dan akhirnya pergi ke Masjid Agung Demak. Ngaji sampai sore disana.
Kemesraan bapak ibu ^,^
Seusai maghrib bapak pulang kerumah, bapak berceloteh bahwa hari itu adalah hari yang paling menyedihkan seumur hidup beliau. Tetap kami tidak bergeming dan cuek. Bapak ngaji lagi. Kami bisik-bisik sambil menunggu kedatangan kakak pertama dan keluarganya. Ketika kakak datang, akhirnya bersama-sama (Aku, Mbak Id Sekeluarga, Mbak Dina Sekeluarga, mamah, dan adek) menghampiri bapak diruang sholat, dan menyanyikan lagu milad sambil membawakan kue tart dengan lilin angka 53 diatasnya. 
Salim duyu sama bapak
Bapak menangis. Beliau menangis penuh haru dan lama sekali. Ternyata keluarga masih sangat perhatian bahkan telah menyiapkan surprise untuk beliau. Bapak menciumi kami satu persatu. Kami makan kue bersama-sama sambil berceloteh ria mengingat kejengkelan bapak sedari pagi.
Selamat ulang tahun, Bapak! Semoga senantiasa diberi keberkahan diusia bapak yang mulai menua. Semoga semakin bijak dan selalu menjadi panutan dan teladan kami semua. Kami sayang bapak. Love you so much never end :*
Kehangatan keluarga kecil kami