Jumat, 29 November 2013

Esok ataukah nanti, ampuni semua salahku



Ku menatap dalam kelam
Tiada yang bisa ku lihat
Selain hanya nama-Mu Ya Allah
Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Lindungi aku dari segala fitnah
Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa
Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Dalam sunyi aku bersujud
(Afgan:Bersujud PadaMU)
Lagu ini memang sudah sangat lama sekali terdengar di telinga saya, anda, bahkan siapa saja. Yap, lagu garapan pemusik kita, Afgan Syahreza. Awalnya, lagu ini sempat membuat saya terpikat dengan iringan musiknya, syahdu sekali, hm, hanya sebatas terpikat, belum lebih.
Tapi hari ini saya merasakan sensasi yang berbeda, melalui lirik lagu itu, saya sadar, betapa Allah mencintai saya, mencintai kita.
Ku menatap dalam kelam
Ketika kita merasa mempunyai dosa, segudang bentuk kesalahan, kita sadar bahwa kita telah salah langkah, kita telah salah jalan, bukan karena DIA, sang pemberi kehidupan, tidak menunjukkannya kepada kita, tapi kita lah yang menutup pintu mata, hati, telinga, dan logika kita untuk mencerna kekeliruan yang telah kita buat.
Tiada yang bisa ku lihat
Ketika kita telah hanyut dalam kesenangan sesaat. Kebahagiaan penuh nuansa semu yang kita sama sekali tak pernah menyadari sebelumnya. Hm, atau mungkin kita menyadarinya tapi kita enggan untuk bangun dari kesalahan itu. Membuat kita buta, membuat kita hilang arah.
Selain hanya nama-Mu Ya Allah
Tiada seorangpun yang mampu memberikan ketenangan hati kecuali ALLAH, sang Maha membolak-balikkan hati manusia. Tiada tempat kembali selain Dia. Dia lah yang selalu membukakan pelukkan lebar-lebar untuk kita mintai segala hal yang kita butuhkan.
Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Kadang kita baru sadar ketika kita telah begitu banyak membuat kesalahan, yang kadang kita fikir kita pun enggan memaafkan diri sendiri, tapi, itulah Tuhan kita, ALLAH SWT, Dia Maha Pengampun.
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Zumar [39] ayat 53)
Lindungi aku dari segala fitnah
Kita acapkali mendengar, bahwa Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. Ya, itu benar sekali. Karena kita akan merasakan sakit yang luar biasa sakit ketika kita terfitnah oleh sesama manusia. Tapi asal kita tahu, fitnah setan itu lebih menyakitkan dari pada fitnah manusia. Naudzubillahimindzalik.
Kau tempatku meminta
Kepada siapa lagi kita akan meminta jodoh, rizki, panjang umur, pekrerjaan, ketenangang hati, dan lain sebagainya kalau bukan kepada Allah? Dialah yang maha kaya yang bisa memberi apapun, bahkan tanpa kita minta, walau itu tidak sering kita sadari.
Kau beriku bahagia
Dia pemberi kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan dunia akhirat, kebahagiaan lahir dan batin.
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa
Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Kita seriiiiiing sekali melupakan Dia di saat kita senang, dan kembali memohon, memelas, ketika kita tertimpa kesedihan, itu lah manusia. Semoga Allah senantiasa mengampuni.
Dalam sunyi aku bersujud
Bersujudlah, selagi masih ada waktu, selagi Allah masih mengijinkan nafas ini berhembus, jantung ini berdetak, nadi ini berdenyut, mata ini memandang, telinga ini mendengar, dan mulut ini berbicara. Bersujudlah, selagi kita masih diberi kesempurnaan untuk bersujud, karena saudara kita yang ada di kubur, untuk membuka matapun tak bisa, dan jika mereka bisa mereka tidak akan pernah mengulangi kedurhakaan mereka kepada Allah di dunia dulu. Semoga bermanfaat. Dan semoga kita senantiasa bertakwa, ingat akan KuasaNYA, dijauhkan dari siksa dunia, kubur, dan akhirat. Amin!





Minggu, 17 Maret 2013

DOAKU, PAGI INI


Pagi ini, ku panjatkan syukurku kepadaMu ya Allah, ketika Engkau masih mengijinkan raga milikMu ini kupakai, jantung ini berdetak, Nadi ini berdenyut, dan nafas ini berhembus.


Ampuni aku ya Allah jika telah banyak membuat kelalaian dan kekhilafan. Mungkin ini semua terjadi ditengah pencarianku atas jati diriku. Tetap apapun yangterjadi, ampuni hambaMu ini ya Rabb.. Ampuni!!

Hari-hari yang telah berlalu kemarin dan kemarin, manis pahit, suka duka, tangis tawa, sesal bahagia, semoga bisa menjadi ibrah buatku untuk senantiasa lebih baik dan lebih baik lagi, agar aku semakin cinta akan Engkau ya Khalik.

Aku tidak akan tahu apa lagi yang akan terjadi padaku kelak, aku pasrahkan semuanya hanya KepadaMu dan terus selalu berhuznudhzon kepada takdir dan ketentuanMu ya Allah. Istiqomahkan aku terhadap tujuan kebaikan. Luruskan niatku untuk meraih barakahMu. AKU HARUS BISA LEBIH BAIK.. PASTI BISA. Amin amin. SEMANGAT ^o^

Kamis, 14 Maret 2013

Teach Me Oo Allah

Please teach me, Allah…
Teach me to always thank for you
When the arrogant power over my mind
Teach me to be a strong girl for you
When this world wouldn’t smile again

Teach me oh Allah…
So I can laugh after I cry
I can spirit full everyday
Before darkness blinds my eyes
Before the clouds covered my face

Aku menemukan puisi ini dalam secarik kertas ketika aku membuka-buka buku usang di sebuah toko loak buku. It's Nice poem. Simple but mengena sekali.

Kadang kita merasa menjadi seseorang yang angkuh dan sombong terhadap kemegahan dunia tanpa pernah mencari makna dan arti yang sebenarnya dari sang Khalik. Kita terlalu tersihir terhadapa apa yang ada tanpa mengambil pelajaran dariNYA. Itulah kita.

Jangan sampai kemegahan dunia membuat kita lupa
Buta
Hina
Dan menginkari nikmatNYA

Kita ada karena DIA
Kita bernafas karena kuasaNYA
Kita berfikir karena pemberian akalNYA
 

Sabtu, 17 November 2012

Ku Tak Seindah Kedipan Matamu


Mengapa engkau tega mencuri hatiku
Tanpa seijin aku lebih dulu

Aku melihat dia waktu itu,
Dia yang ceria, dia yang senyumnya mempesona, dia yang baik hati kepada siapapun itu, dan dia yang mempunyai nilai plus karena taqwanya dia kepada sang Khalik.
Pertama kali mengenalnya, sungguh tidak ada rasa canggung dalam perasaan ini. Dia sungguh Friendly, dan itu membuat dia selalu banyak kawan.
Tak pernah sekalipun dia tahan melihat orang sedih dan diam, terutama aku sebagai teman satu kelompok Praktek Asuhan Keperawatan di ICU. Dia selalu menghibur aku dengan berbagai tingkah dan  mimic wajahnya yang lucu. Dalam bentuk apappun dia berusaha melucu hingga wajahnya mirip badut, tetap tak mengurangi ketampanannya.
Sungguh, sejak awal dia memang begitu menarik. Lebih menarik lagi ketika aku menjadi teman satu tim dan dekat dengan dia.
Hari-hariku terasa indah dan bermakna sekali selama aku praktek dan berteman dengan dia. Dia selalu ringan tangan membantu siapapun, terutama membantuku. Mengantarku ke asrama, menemaniku makan, mendengarkan ceritaku, sampai ketika aku marah dan menangis dia yang menghiburku.
Yang aku tahu, aku adalah sosok yang keras kepala, emosional, galak, dan seenaknya sendiri. Aku sering memarahinya ketika dia kurang gesit mengerjakan laporan ICU.  Aku sering merajuk ketika kadang dia lebih membantu temanku yang lain. Tapi tetap, pesonanya tak pernah pudar, dia tetap baik dan baik terhadapku.
Pernah suatu kali aku minta kepada atasan Rumah Sakit agar dipindahkan dari tim. Ya, kala itu aku marah kepadanya karena dia menghilangkan laporan kelompok. Sebenarnya aku bisa membuatnya lagi, tapi ada sebab lain yang membuat aku benar-benar tak ingin bicara lagi dengan dia. Dia semalam pergi makan dengan Rebecca, temanku bule keturunan Brazil-Malang, aku cemburu. Ya aku cemburu sekali. Rebecca sudah punya pacar padahal, tapi aku tetap cembru sekalipun dia sudah bersuami. Agak sedikit aneh memang, tapi aku tetap tidak suka.
Lalu aku dengan atasan berbicara langsung dengan dia. Atasan mengutarakan maksudku untuk keluar dari kelompok karena alasanku dia menghilangkan laporan kelompok. Dia terdiam. Dia mendatangiku. Tapi aku sama sekali tak mengindahkannya, apalagi membalas sapaannya.
Akhirnya aku keluar dari kelompok. Aku pindah kelompok lain. Teman-teman menanyaiku kenapa aku jadi seperti itu. Aku hanya menjawab sekedarnya dan pergi.
Aku tersiksa, benar-benar tersiksa. Tidak satu kelompok dengan dia, tidak ada dia yang menghibur, tidak ada dia yang mengantar pulang, sungguh tersiksa. Aku sering marah-marah. Apalagi kalau melihat dia bersama Rebecca.
Sebenarnya aku tidak punya hak atas semua ini. Mungkinkah ini perasaan cinta ya, aku mencintainya. Sejak hari pertama aku melihatnya sholat dengan khusyuk di musholla. Hari itu aku mulai mengamatinya dan jatuh hati kepadanya.
Tapi dia? Apa iya perasaannya sama dengan apa yang aku rasakan? tahukah dia tentang perasaan ini?
Berhari-hari dia menyapaku dan aku tetap tak bergeming. Dan hari itu, ku lihat dia diam. Tak ada lagi senyumnya untukku. Dia sama-sama acuh.
Aku pergi ke musholla. Aku ingn menangis disana. Tapi, aku meihat dia. Berdoa di dalam musholla sambil terisak. Ya, dia menangis. Lama sekali aku melihatnya terisak ditengah doanya. Aku serba salah. Ingin aku mendekat tapi aku takut.
Tiba-tiba dia menyudahi doanya dan berbalik kearahku. Aku terkejut. Tak sempat melarikan diri. Aku terdiam mematung. Dia melihatku. Kami pun terdiam.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Tidak apa-apa.” Jawabnya sambil tersenyum. Dia berjalan hendak meninggalkanku. Tapi langkahnya terhenti lagi. “Salsabila, maaf ya. Gara-gara aku laporan kita hilang. Aku memang bukan bagian dari tim yang baik. Aku banyak bercanda daripada serius. Aku sering membuatmu gemas dan jengkel sampai kamu memtuskan keluar dari tim. Maaf ya!”
Aku ingin menangis. Aku seharusnya yang banyak salah. Aku sering kasar dan egois. Aku sering marah tanpa alasan. Bahkan aku sering menyuruhmu kesana kemari mengantarku padahal aku memiliki mobil sendiri.
“Iya. Aku juga minta maaf” jawabku pelan.
“Kita berteman lagi kayak dulu ya? Aku sudah menyerahkan laporan yang aku buat ke Pak Tri. Aku merasa nggak tenang kita seperti ini.”
Sama, Ghani. Aku juga tidak tenang. Apa lagi melihatmu dengan Rebecca.
“Iya, Ghani.” Jawabku pendek.
“Alhamdulillah. Ya sudah. Sholat dulu sana. Jangan cemberut lagi ya. Ingat, pemaaf itu adalah salah satu sikap istri idaman, hehe” katanya sambil memasang muka lucu.
Aku tersenyum. Duh, dia itu. Selalu bisa meluluhkan hatiku.
Aku menuju tempat wudhu. Ku basuh mukaku. Aku senang ya Allah. Dia kembali. Kami kembali. Aku pun trenyuh kala melihat dia menangis. Dia menangis untukku-kah?
Keesokan harinya dia mendekatiku. Kami bercanda seperti sedia kala. Teman-teman bahkan mencibir kami layaknya pasangan suami istri yang rujuk lagi. Aku tertawa mendengar ocehan mereka.
Tiba saatnya kami harus berpisah dari praktek Asuhan Keperwatan dan kembali pada rutinitas dikampus masing-masing. Sedih menggelayutiku lagi. Haruskah aku berpisah dengan dia?
Malam itu malam terakhir bagi kami. Kami mengadakan acara renungan perpisahan di bagian belakang Rumah Sakit. Kami menangis serentak tatkala ketua kelompok mengingatkan masa-masa kita pertama bertemu. Aku meliha dia. Tak ku sengaja dia melihat kearahku. Darahku berdesir. Ya Allah, kenapa ini?
Acara renungan telah selesai. Kami semua berputar untuk saling berjabat tangan. Kini giliranku berjabat tangan dengan dia.
“Ghany, maaf ya atas sikapku selama ini.” Ucapku terbata-bata.
“Sst, mana Salsa yang tegar, kuat, keras bagai batu beton?” ucapnya sambil tersenyum. “Mesti mau nangis?” Godanya.
“Yee, enak aja! Ga banget aku nangis.”ucapku sambil memalingkan muka.
“Beneran?” godanya lagi.
Cess. Air mataku jatuh. Aku benar-benar menangis. “Nanti siapa yang nganter aku subuh-subuh ke rumah sakit? Siapa yang mukanya bisa berubah kaya badut saat aku sedih?” ucapku sambil terisak.
“Tidak boleh gitu, Sa! Ingat, setiap pertemuan itu ada perpisahan. Kamu adalah inspirasiku, Sa. Kamu yang mengajarkan aku kalau seorang lelaki itu harus gesit, cekatan, dan bisa menjadi imam untuk perempuan.”
DEG. Jantungku berdetak tak karuan. Apa yang dia ucapkan barusan? Ya Allah aku senang dia berucap seperti itu.
“Apa? aku inspirasi kamu?” tanyaku tak percaya.
Matanya berbinar, “Iya, kamu inspirasiku. Kamu yang menyadarkan aku caranya bersikap serius atau santai di dalam situasi. Akan ku ajarkan kepada istriku 3 bulan lagi. InsyaAllah.”
Dahiku berkerut. Istriku? 3 bulan lagi? Apa maksudnya?
“Oh ya, Sa. 3 bulan lagi selepas wisuda di kampusku, aku akan menikah. Hadir ya?”
Untuk yang kedua kalinya aku terkejut. Tapi ini lebih dari sekedar terkejut.
“Maksdu kamu?” kataku terbata-bata.
“Iya, 3 bulan lagi aku menikah. Maaf ya baru ngasih tahu. Biar kedengeran surprise gitu., hehe.” Ucapnya.
Aku memaksakan tersenyum. Pahit ya Rabb. Aku semakin menangis. Bukan karena sedih berpisah dengannya, tapi karena mendengar dia akan menikah.
Dia menepuk bahuku, dan berlalu dariku. Ya Allah, aku lemas kala itu. Ingin rasanya aku ambruk dan pingsan.
Dia yang sempurna dimataku. Dia yang selalu mempesona. Dia yang hatinya mulia. Dia yang selalu ceria. Ah, ya Allah, ternyata selama ini aku terlalu tinggi menduga. Aku gadis keras yang tak ada lembutnya, yang galak tak ada ampunnya, yang pemarah dan besar egosinya, mengharapkan dia?
Aku memutuskan untuk pulang. Menenangkan diriku. Melupakan dirinya.

Aku bahkan tak seindah
Ku tak seindah kedipan matamu
Tapi dapatkah kau berikan senyum untukku
Walau itu bukan cinta,
(Lagu Astri ft Kim, Saranghamnida)