Detik
jarum jam dinding di sudut ruang itu menemani sepasang mata sayu yang
menerawang di tengah keheningan. Tersirat kekhawatiran yang amat dalam pada
raut muka yang telah keriput dimakan usia. Dia hanya duduk termenung sambil sesekali
matanya melirik ke arah pintu menunggu seseorang yang muncul di baliknya.
23.45
Dia
mendesah. Terdengar bunyi “krek” pada kursi reyot di ruang tamu itu ketika dia
beranjak berdiri dari duduknya. Dia melangkah mendekati pintu dan mengintip di
balik korden hijau yang warnanya telah lusuh.
“Kemana
Isha?” Batinnya.
Tok..tok..tok..
Suara
ketukan itu mengejutkannya. Tapi kemudian bibirnya menyungging senyum lega.
Mungkinkah Isha? Ia bergegas membuka pintu berharap yang di luar sana orang
yang sedari tadi ia nanti.
“Isha, kamu
dari mana saja? Kenapa baru pulang selarut ini?” Tanyanya ketika Isha muncul di
balik pintu.
Isha hanya
diam sambil menerobos masuk ke dalam tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya.
“ Isha, ibu
sedang bicara padamu!” Ujar ibu seraya membuntuti langkah Isha. “ Kenapa baru
pulang selarut ini?”
“Jalan-jalan!”
Sahutnya enteng.
“Tapi apa
harus selarut ini? Kamu ini perempuan, nak!” Suara ibu agak tertahan.
Isha
berbalik ke arah ibu dan menatapnya dengan nada menantang.
“Lalu, kenapa
kalau Isha perempuan?”
“Tidak
baik perempuan keluyuran sampai selarut ini. Ibu tidak ingin kamu rusak.”
Isha
tersenyum jengah.
“Rusak?
Isha, bukan seperti ibu!” Ujarnya dingin.
Ibu
terperangah. Di tatapnya Isha dengan pandangan tak mengerti.
“Kenapa
kamu bicara seperti itu?”
“Karena
Isha nggak punya ayah!” pekik Isha berlalu memasuki kamar dan membanting
pintunya dengan keras.
Ibu
tertegun memandang Isha. Air matanya menetes merasakan nyeri yang menyiksa di
lubuk hatinya. Oh, Isha! Andai kau tahu, nak!

Bertahun-tahun
di otaknya hanya ada tanya tentang ayah. Dimana ayah? Masih hidupkah? Isha tak
pernah tahu seperti apa wajah ayahnya. Hampir dua puluh empat tahun dia hidup
hanya bersama sang ibu. Hanya berdua. Ibu tak pernah mau menjelaskan dimana
ayahnya.Selama itu pun Isha hidup dengan teka-teki yang mendera batinnya.
Tentang sang ayah.
Ibu selalu
bungkam seribu bahasa setiap kali pertanyaan tentang ayah terlontar dari mulut
Isha. Jika ayahnya masih hidup, dimana dia sekarang? Dan seandainya telah
tiada, adakah tempat pemakamannya? Tak pernah Isha bersikap harmonis terhadap
sang ibu selama ibu tidak memberitahukan perihal ayahnya.
Satu yang
hanya Isha tahu tentang ayahnya. Hanya nama sang ayah. Hanya itu. Itu pun di
akta kelahiran. Selain itu,,Uh! Begitu benci Isha terhadap sang ibu.
Selama
bertahun-tahun, Isha hidup dalam kegalauan tentang teka-teki ayahnya. Kenapa
ibu tak pernah jujur? Kenapa selalu menyembunyikan perihal ayah? Apa karena
Isha anak haram? Apa sebenarnya yang terjadi? Isha begitu membenci ibu. Ibunya
yang telah memutuskan tali batin antara Isha dan ayah. Ibunya juga yang membuat
dia tersiksa karena hidup tanpa mengenal siapa ayahnya.Semua itu hanya bisa
Isha lampiaskan dengan berbuat semaunya. Toh ibu nya tak pernah mau jujur kepadanya!
********
Pagi itu
cuaca sedang tak bersahabat. Langit memuntahkan hujan dengan derasnya. Tiada
kicauan burung, apalagi sambutan hangat sang mentari.Yang terdengar hanya
gemuruh air hujan yang begitu mengusik.
Ibu
memasuki kamar Isha, dilihatnya gadis bertubuh jangkung itu duduk termenung di
dekat jendela sambil matanya menatap air hujan yang menetes dari atap.
“Kamu
punya ayah, nak!” Ujar ibu pelan,mendekati Isha dan membelai lembut kepalanya.
Isha
menepis kasar tangan sang Ibu dan berdiri menjauhinya.
“Apa
hanya itu yang bisa ibu katakan?” Tanyanya sinis.
Ibu
menunduk. Mencoba menahan air matanya agar tidak tertumpah.
“Isha…..”
“Bu,”
Potong Isha marah. “Apakah ibu bisa merasakan luka batin yang selama ini Isha
terima dari cercaan orang lain karena Isha tidak memiliki ayah?”
“ Kamu
punya ayah, nak!” jawab Ibu tersendat.
“Lalu
mana ayah Isha? Siapa dia?” Bantah Isha. “Isha butuh penjelasan tentang ayah, bu!
Bertahun-tahun Isha tersiksa dengan sikap ibu yang seperti ini. Ibu selalu
bungkam dan seolah-olah tak perduli akan perasaan Isha di luar sana. Isha butuh
kejujuran. Bukan kebungkaman ibu yang hanya membuat Isha menjadi seperti orang bodoh yang tak mengerti
apa-apa.”
Bibir ibu
bergetar. Di pandangnya Isha dengan penuh kasih sayang.
“Isha ingin punya ayah, bu. Isha ingin hidup
normal seperti orang lain.” desahnya dengan mata yang mulai memerah. “Kenapa
ibu tidak pernah mau menceritakan tentang ayah? Kenapa ibu selalu
menyembunyikan segala tentang ayah?Apa karena Isha anak haram?”
“Bukan, nak.
Kamu bukan anak haram….”jawab ibunya lirih
Isha
terdiam. Tangannya mengepal menahan segala amarah yang meyesakkan dadanya.
“Ibu
belum siap menceritakannya sekarang” Lanjut Ibu.
Isha
mendengus,
“Ibu
pengecut. Isha benci jadi anak ibu” jeritnya sambil melangkah pergi.
Ibu
membuntuti langkah Isha. Di tariknya tangan Isha ketika Isha bergegas keluar
dari rumah.
“Kamu mau
kemana Isha?”
Isha
menarik tangannya dari genggaman ibu dengan kasar. Di tatapnya muka sang ibu
dengan tajam.
“Bukan
urusan ibu”
“Tapi nak,
hujannya sangat lebat. kamu jangan keluar rumah. Ibu tidak ingin sesuatu yang
buruk menimpamu jika kamu keluar di tengah gemuruh hujan seperti ini. “ tahan
ibu.
“Isha
akan pergi dan tidak akan pulang sebelum ibu mampu meyakinkan Isha bahwa Isha
memang bukan anak haram.” Sahut Isha sambil terus melangkah meninggalkan
ibunya.
Isha
keluar dari rumah dan menerobos hujan yang semakin lebat. Tak perduli ia akan
dingin dan tusukan air hujan yang membuat sakit kulitnya. Dia terus melangkah
ditengah petir yang menyambar-nyambar yang terdengar begitu menyeramkan. Tak di
hiraukannya panggilan sang ibu yang memanggil dan membuntuti langkahnya dari
belakang.
Isha tidak
tahu harus melangkah kemana. Saat ini yang terpikir di benaknya hanyalah pergi
jauh-jauh dari ibu yang tak pernah jujur dan membuatnya tersiksa. Untuk apa dia
bertahan jikalau ibunya tetap bungkam?
“Isha….”
Teriak ibunya memanggil.
Isha terus
berjalan, suara ibunya yang terus memanggil dan deru kendaraan bermotor yang
berlalu-lalang di jalan tak meyurutkan langkahnya untuk berhenti. Pikirannya
kalut. Dia benci dengan kehidupannya yang selalu seperti ini. Dia lelah untuk
mengalah. Dia lelah dengan bisik-bisik orang tentang statusnya yang tak
berayah. Dia lelah mencari jawaban yang selama ini tak kunjung dia temukan. Dia
ingin kepastian. Kepastian dari mulut ibunya.
BRAKKKK..
Isha
terkejut mendengar decit roda truk yang begitu keras. Dia menghentikan
langkahnya dan menoleh ke arah kerumunan di balik hujan lebat yang tak jauh
dari tempatnya berpijak. Sebuah truck buah menabrak seseorang. Isha hanya
memandang sekejap dan melanjutkan langkahnya kembali. Dia ngeri jika
membayangkan tragedi kecelakaan,apalagi harus melihatnya.
Tiba-tiba kakinya
tertahan. Bukankah ibu tadi mengikuti dirinya? Lalu,kemana ia sekarang? Dadanya
berdetak tak beraturan. Perasaan galau menghantam Otaknya. Mungkinkah tadi…
Isha
berbalik arah dan berlari kencang ke tempat kerumunan kecelakaan. Dia berjalan
menyeruak masuk ke tengah kerumunan orang-orang yang menyaksikan peristiwa
kecelakaan itu. Semoga saja bukan ibu, batin Isha,,
Lututnya
melemas. Pandangannya mengabur dan bibirnya menggigil. Sosok wanita dengan
wajah dan tangan kiri bersimbah darah, terkulai tak berdaya di antara kerumunan
manusia di tengah hujan lebat yang tak bersahabat,ternyata orang yang terkapar
itu adalah orang yang sedari tadi memanggil dirinya untuk kembali pulang.
******
Tiga hari
yang lalu semenjak ibunya mengalami kecelakaan, Isha tak pernah sedikitpun
beranjak meninggalkan ibunya yang sampai kini tak kunjung sadar. Dia merasa
bahwa dialah penyebab semuanya. Wajah ibunya hampir rusak dan tangan kirinya
telah di amputasi karena terlindas oleh ganasnya roda truck. Oh God, betapa
menyedihkan melihat kondisi ibunya yang seperti ini. Masih tegakah dia mendesak
ibunya menceritakan perihal ayah?
“Isha,kamu pulang dulu saja. Biar suster yang menjaga ibu kamu di sini. Sudah
tiga hari kamu nggak pulang kan?” kata Suster Era,yang merawat ibu di rumah
sakit,kepada Isha.
“Tapi
Sus, Isha nggak tega ninggalin ibu.” Ujar Isha.
“Di sini kan
ada suster, percaya deh sama suster.” Suster Era tersenyum penuh arti ke arah Isha.
Isha hanya
mengangguk. Dia pun pulang ke rumah untuk melihat keadaan rumahnya dan
mengambil tabungan untuk biaya rumah sakit ibunya.
Empat
tahun kuliah dengan bantuan beasiswa serta biaya dari ibunya yang bekerja
sebagai koki di sebuah restaurant jepang, dia pun mendapat gelar SE,Akutansi
dan di terima menjadi akuntan di sebuah perusahaan asing dikota Gudeg. Gajinya
pun lumayan banyak karena dia termasuk salah satu akuntan muda yang handal di
perusahaan itu.
Ibunya tak
pernah meminta hasil jerih payahnya. Dia pun tak pernah menginginkan dibelikan
sesuatu dari Isha termasuk memperbaiki rumahnya yang telah lapuk dimakan usia.
Selama dia masih mampu memberi suapan nasi untuk Isha, Ibu tidak ingin membebani
anaknya.
Isha
memasuki kamar ibunya untuk mengambil berbagai kebutuhan yang nantinya diperlukan
ibu dirumah sakit. Saat membuka almari pakaian ibunya, matanya tertuju pada
sebuah amplop coklat yang tertimbun di antara baju-baju ibu.
Dengan
hati-hati Isha membuka isi amplop itu, ada dua lembar surat di dalamnya,,
121162
23:32
Aku
sudah tidak mempercayai sesuatu
Sesuatu
yang ku hargai, ku junjung tinggi-tinggi
Ku
sabari menjaga semuanya
Ternyata
tak berarti apa-apa
Semua hanya
omong kosong
…………………………………………………
Menyedihkan
dan menyakitkan ketika kata cinta yang pernah dia ikrarkan ternyata hanya
kepalsuan semata. Janji yang terkesan begitu suci, ternyata tak berarti. Apa
karena aku tervonis Infertil, aku jadi tak punya arti apa-apa dimatanya? Aku
tidak pernah meminta menjadi wanita yang tidak sempurna, tapi bukankah dia
berjanji akan menerima segala kekurangan yang ada pada diriku?
Aku
selalu berusaha memberi yang terbaik untuknya, berusaha menjadi yang terindah
untuk dia miliki, tapi pada kenyataannya aku tak bisa memberi tanda cinta yang
yang ia damba, haruskah perselingkuhan menjadi jalan terbaik baginya?
Rasa
nyeri begitu menggerogoti ketika cinta telah terkhianati. Dan luka itu makin
menjadi ketika ku tahu wanita itu bisa memberi dia apa yang tak bisa ku lakukan
untuknya. Pedih,,,Aku merasa terasing di tengah hidupku yang sepi. Haruskah aku
berontak? Pada siapa? Aku sudah tak mempunyai sanak saudara. Mereka telah tiada
tertimbun gempa yang murka. Hanya dialah satu-satu orang yang aku punya. Tapi
ternyata…
Mungkin
aku harus merelakan dia pergi. Tapi, ah! Merelakan dia untuk orang lain? Sedang
aku harus teraniaya sepi seperti ini?
Ya Rabb,
betapa piciknya aku! Dia tidak bahagia denganku, dia ingin mencari kehidupan
yangbisa membuatnya lebih bahagia, kenapa aku tak bisa mengikhlaskannya?
Bukankah yang dinamakan cinta adalah melihat orang yang di sayanginya bahagia
meski kita harus terluka?
Mungkin
aku memang bukan di takdirkan untuknya. Semoga saja dia menemukan kebahagiaan
abadi dengan cintanya yang bisa memberi apa yang tak bisa ku beri untuknya.
Tapi, mereka
begitu tak punya hati. Setelah berhasil mencabik-cabik hatiku, mereka
meninggalkan bayi mungil itu di depan teras rumahku. Entah kemana mereka dan
dimana hati nuraninya? Apa maksud mereka dengan sandiwara ini? Begitu tega
mereka terhadap darah dagingnya! Bukankah manusia kecil ini yang sekian lama
dia harapkan yang tak bisa dia dapatkan dariku? Lalu kenapa dia dan wanitanya
membuang bayinya?
Bayi
mungil itu tak berdosa, tapi kenapa mereka meninggalkannya begitu saja?
Aku akan
merawatnya agar dia tumbuh menjadi gadis jelita yang bijaksana. Ku beri dia
nama “Aisha”, agar dia bisa menjadi sosok wanita berjiwa besar dan menjadi
teladan buat siapa saja seperti, istri Rasullullah.
Biarlah
orang yang ku cinta pergi meninggalkan luka. Biarlah dia menemukan kesempurnaan
cinta yang ia damba. Sesakit apapun dia menikam jantungku, Seperih apapun dia
menusuk nadiku, aku percaya dia menitipkan Aisha untukku. Akan ku jaga Aisha, walau
dia terlahir dari rahim wanita yang telah merebut orang yang ku cinta.
230808
18:05
Aisha
telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Dia cantik dan pandai. Aku tidak tahu harus
berkata apa lagi setiap kali dia menanyakan perihal ayahnya.
Aku
tidak pernah bermaksud menyembunyikan apapun darinya, termasuk tentang ayahnya.
Satu hal yang aku takutkan jika dia telah mengerti siapa dirinya yang
sebenarnya, dia kan pergi meninggalkanku. Karena aku bukan ibunya. Karena aku
bukan orang yang mengandung dan melahirkan dia. Aku takut.. Aku tidak mau kehilangan dia. Walau
dia bukan terlahir dari rahimku, aku begitu mengasihinya. Hanya ada dia yang
kumiliki di dunia ini. Aku tidak mau dia
terebut oleh siapapun.
Ku
mohon, Aisha….
Jangan
ingatkan aku lagi tentang ayahmu..
Air mata
Aisha menetes. Tangannya bergetar membaca isi surat itu. Ternyata orang yang
selama ini hidup dengannya bukan ibunya?
Tapi Siapapun
dan seperti apapun dia, Isha begitu menyesal
karena selama ini tak pernah sedikitpun Isha bersikap manis kepadanya. Orang
yang dengan tulus mencintai Isha, yang begitu sabar menerima segala sikap buruk
dari Isha, yang tak pernah surut kasihnya walau Isha tak pernah
membahagiakannya, yang tetap sudi menyayangi Isha walau dia terlahir dari rahim
orang yang telah merebut orang yang begitu ia cintai. Oh God, begitu begitu
kejamnya Isha? Jika seandainya saat itu Isha di dibiarkan tergeletak kedinginan
tak berdaya oleh sikap ayah dan ibu kandungnya yang tak punya hati, akankah dia
bisa melihat dunia dengan sesempurna ini?
Untuk apa
Isha menanyakan perihal ayahnya, orang yang telah menyianyiakan dirinya dan
ibunya? Yang telah membuang Isha dan menyakiti orang yang selama ini
merawatnya? Ayah begitu bodoh meninggalkan wanita seagung ibu, mencampakan
istri yang begitu memuja dan mengasihi ayah, Ayah tak bisa melihat kesempurnaan
di balik kekurangan ibu. Seperti apapun ibu, di mata Isha ibunya adalah wanita
paling sempurna, paling mulia, yang sudi memungut dirinya dari tangan ayah dan
ibu kandungnya yang telah membuangnya.
“ Ibu, kini
Isha berjanji tak akan lagi tanya tentang ayah jika semua itu membuat ibu
terluka. Isha tak butuh orang lain karena Isha yakin dengan ibu yang begitu mengasihi
Isha mampu membuat hidup Isha selalu penuh akan cinta. Isha hanya ingin ibu.Tak
akan ada lagi ucapan menyakitkan yang Isha biarkan keluar dari mulut Isha. Isha
berjanji akan selalu menyayangi ibu sebesar sayang ibu terhadap Isha. Isha akan
selalu bersama dan menjaga ibu, sampai Sang Khalik mengakhiri hidup Isha. Tak
akan Isha biarkan sejengkal langkah Isha meninggalkan ibu.
Maafkan
Isha yang selama ini tak pernah membuat ibu bahagia. Maafkan Isha yang selalu
membuat ibu terluka. Jika dari dulu Isha tahu pertanyaan itu menyakitkan ibu, sungguh…tak
akan sampai hati Isha mengulangnya. Ibu bukan wanita pengecut, justru ibu lah
wanita yang paling mulia yang mencintai Isha tanpa memandang siapa Isha
sebenarnya. Isha bersyukur memiliki ibu seperti ibu. Anugerah terindah yang
Isha miliki adalah menjadikan Isha bagian dari hidup ibu. Isha sayang sama
ibu…” batin Isha dengan dada bergetar.
Isha
menyimpan surat itu kembali. Bergegas
dia berangkat dan menuju rumah sakit untuk menemui ibunya. Dia ingin mengatakan
pada Ibunya bahwa selama ini Isha begitu menyayanginya dan tak mengharapkan
apapun jua selain hidup bahagia besama ibunya.
God gave Mom a tear to shed,
It's her exclusively to use whenever it is needed,
It's her only weakness...
It's a tear for mankind..."
********