Bengkulu, 02 November 2013
Bismillahirrahmanirrahim
Allah, betapa indah janjiMU.
Engkau pertemukan Dessy dengan sebuah keluarga yang sederhana dan bersahaja di
tanah yang sama sekali Dessy belum pernah menginjakknya. BENGKULU! Pertama kali
melihat Akas Effendi (Akas = Panggilan untuk kakek) waktu menjemput Dessy di
Bandara, rasa-rasanya Dessy sudah menemukan keteduhan di wajah beliau. Sosok
kakek yang baik hati, perhatian, dan luar bisaa pandai serta gahul. Beliau
bukan kakek dari keluarga Dessy. Beliau benar-benar orang asing tulen yang baru
Dessy temui pertama kali itu.
![]() |
Bersama akas Effendi, Nenek, dan cucunya. |
![]() |
Kakak tercinta saya bersama keluarga Akas Effendi |
Hari Kamis sore, Dessy diajak
jalan-jalan kakek dan nenek beserta cucu-cucunya yang lucu. Queensa, Nando,
Piwi. Ah, mereka teramat baik dan menyenangkan. Kami jalan-jalan ke Pantai
panjang, Benteng Marlborough, terus Rumah Pengasingan Bung Karno.
![]() |
Suasana Pantai Panjang sore hari |
![]() |
Pinggiran Pantai Panjang |
Selesai
ke Pantai Panjang, kami langsung cuss ke
Benteng Marlborough. Benteng
Marlborough (Inggris:Fort
Marlborough) adalah benteng peninggalan Inggris di kota Bengkulu. Benteng ini didirikan oleh East India Company (EIC)
tahun 1713-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet
sebagai benteng pertahanan Inggris. Konon, benteng ini merupakan benteng
terkuat Inggris di wilayah Timur setelah benteng St.
George di Madras, India.
Benteng ini didirikan di atas
bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi samudera Hindia. Benteng ini pernah dibakar oleh rakyat
Bengkulu; sehingga penghuninya terpaksa mengungsi ke Madras. Mereka kemudian kembali tahun 1724
setelah diadakan perjanjian. Tahun 1793, serangan kembali dilancarkan. Pada
insiden ini seorang opsir Inggris, Robert Hamilton,
tewas. Dan kemudian pada tahun 1807, residen Thomas Parr
juga tewas. Keduanya diperingati dengan pendirian monumen-monumen di kota
Bengkulu oleh pemerintah Inggris.


Marlborough
masih berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia-Belanda tahun 1825-1942,
Jepang tahun 1942-1945,
dan pada perang kemerdekaan Indonesia. Sejak Jepang kalah hingga tahun 1948,
benteng itu manjadi markas Polri.
Namun, pada tahun 1949-1950, benteng Marlborough diduduki kembali oleh Belanda. Setelah Belanda pergi tahun 1950,
benteng Marlborough menjadi markas TNI-AD. Hingga tahun 1977,
benteng ini diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan
bangunan cagar budaya. (Wikipedia)
![]() |
Jembatan Benteng |
![]() |
Panorama dari atas Benteng |
![]() |
Masih dalam proses renovasi |
Bengkulu itu kota yang kecil
tapi tenang banget. Nggak sumpek dan bikin pusing kayak Jakarta dan Semarang.
Yah, hampir sama dengan Demak menurut Dessy, tapi lebih banyak nuansa wisata
dan budayanya disana.
Keluraga kakek effendi ini
benar-benar bersahaja, Rabb. Anak-anaknya semuanya sukses. Begitu pun
menantunya. Semua berkecukupan dan teramat menghargai dan sayang terhadap orang
tuanya. Satu sama lain saling rukun. Mereka juga sayang sama Dessy selama disana.
Ah, Subhanallah! Semoga Dessy kelak bisa seperti itu. Dan semoga kami bisa
menjadi saudara yang baik. Amin.
Dessy
Nur Andriyani
17:04