Siang itu, aku yang sedang menikmati
tidur siangku yang nikmat, dibangunkan oleh ibu. Hm, pasti minta diantar ke
pasar, pikirku. Walau dengan badan yang sungguh letih kala itu karena habis lembur
di kantor SD, ku paksakan untuk bangkit dari tidur. Apa sih yang nggak bisa aku
tolak dari segala hal yang di ucapkan oleh ibu? Hehe.
Setelah cuci muka dan ambil jilbab,
aku siap-siap nangkring di atas
motor. Ibu mengajakku untuk beli beras. Bukan ke pasar ternyata, tapi ke selep alias ke tempat penggilingan padi
tak jauh dari rumahku. Cuma butuh waktu sekitar 2 menit untuk sampai kesana.
Kata ibu, beli beras di selep harganya
jauh lebih murah ketimbang ketika sudah
di distribusikan ke pasar-pasar.
Sesampai disana,
aku hanya menunggu di pintu utama selep,
ibu masuk menemui pemilik selep untuk
membeli beras dan terjadilah transaksi enyang-enyangan
(tawar-menawar) antara ibu dan si empunya selep.
Aku melihat
sekeliling selep, banyak orang-orang
yang sedang bekerja disitu untuk mengeringkan Padi agar menjadi gabah (Padi Kering) dan siap untuk
digiling. Tua, muda, besar, kecil, laki-laki dan perempuan. Tapi mata ini
tertuju pada seorang perempuan yang kira-kira berumuran 65an, yang sedang
memanggul 2 karung besar gabah dipunggungnya.
Ya Allah, laa haula wa laa quwwata illaa
billahil ‘aliyyil ‘adziim.
![]() |
Tampak dari jauh seorang wanita 65an memanggul 2 karung gabah yang hanya beliau yang bisa merasakan beratnya |
Tiba-tiba dada ini
serasa bergemuruh. Hatiku trenyuh. Ada rasa kecewa, dimana anak-anak ibu itu?
Dimana suaminya? Dimana saudara-saudara? Kenapa masih jua seorang perempuan
renta seperti itu harus bekerja pekerjaan kasar, tak adakah yang lebih baik
bagi seorang perempuan tua?
![]() |
Seorang ibu ditemani anak laki-lakinya yang masih kecil |
Ku ucapkan
berkali-kali rasa syukur, keluargaku masih di beri rizki yang cukup sehingga
tak perlu ku lihat ibuku tercinta harus memanggul 2 karung besar gabah di punggungnya setiap hari. Yah,
walaupun setiap habis subuh aku dan ibu harus kulak’an (membeli untuk di jual kembali) solar serta bensin ke
pertamina dengan membawa 2 dirigen besar dengan di angkut untuk di jual kembali
di rumah. Pekerjaan sampingan untuk meringankan kerja bapak sebagai guru SD.
Tapi aku selalu bersyukur. Seperti apapun kondisi keluargaku, masih
alhamdulilah jika aku melihat lagi orang-orang di bawahku.
Lalu, masihkah kita
berani menyakiti hati seorang ibu? Masihah kita berani bergaya di atas rekoso (beban) sang ibu? kalau ada, wah
kebangetan!!!